Rabu, 03 Desember 2014

Filsafat aliran idealisme - ‘Tertiupnya Jiwa Para Pendidik’



Para pendidik adalah seorang contoh ataupun panutan bagi para peserta didiknya. Bukan hanya untuk peserta didiknya saja tapi masyarakat sekitarpun sangat segan bahkan menganggap tenaga pendidik (guru, dosen, dsb) adalah dewa yg dimana setiap ucapannya adalah kalimat-kalimat ajaib. Berbicara mengenai para pendidik atau dalam kata lain guru nampaknya sangat menarik, melihat kini banyaknya para pendidik yang bejublak membeludar menekuni dan mengambil profesi ini. Tapi, apakah kita tahu tentang idealnya guru dalam filsafat idealisme pendidikan bagaimana?
Kita tahu bahwasanya ‘ideal’ adalah sebuah kata yang bermakna kesesuaian, kecocokan. Berbeda dengan kata ‘idealisme’ dalam lingkup filsafat. Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide dari pada kata ideal. Secara ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealis memenekankan mind sebagai hal yang lebih dahulu (primer) dari pada materi. Akal adalah yang riil sedang materi adalah produk sampingan. Dengan demikan maka idealisme menganggap bahwa dunia pada dasarnya hanya sebuah mesin besar dan harus ditafsirkan sebagai materi atau kekuatan saja.
 Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.
Membahas tentang idealisme dan pendidik nampak cukup menarik Terpapar jelas di atas penjelasan mengenai arti idealisme baik dari segi umum maupun filsafat, dan dapat disimpulkan memang adanya suatu keharusan bagi para pendidik untuk menerapkan dan memahami aliran filsafat yang satu ini. Mengapa? Karena agar para pendidik paham tentang profesinya, dan lebih menjiwai profesinya.
Mengapa harus menjiwai? Disini dipaparkan secara jelas pemahaman idealisme, yang dimana dikatakan diatas tadi, yaitu merupakan sebuah realitas yang terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal dan jiwa bukan benda material dan kekuatan. Hal itu terjadi kata idelisme sendiri berasal dari kata idea yang berarti sesuattu yang hadir dalam jiwa. Jika sudah jelas defininya seperti ini lalu mengapa masih banyak para pendidik yang kurang menjiwai profesi ini? Bukankah menjadi seorang pendidik bukan hanya sebuah profesi melainkan panggilan jiwa?
Semua kembali pada prinsip dan pandangan masyarakat awam menngenai pendidik. Dahulu orang yang mengambil profesi sebagai pendidik dianggap sebagai sebuah profesi yang tidak menjanjikan untuk masa depan. Bayangkan saja, gaji deorang pendidik pada saat itu jauh dari kata cukup, hingga akhirnya banyak dari pada pendidik kita mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhannya itu. Walaupun seperti itu, para pendidik pada jaman itu bekerja mendidik anak bangsa dengan penuh dedikasi, penuh dengan jiwa, walau nyatanya gaji mereka tak sebanding dengan pengorbanan mereka. Alhasil karena mereka menjiwai profesi itu dan spirit mendidiknya sangat tinggi, tak masalah gaji berapapun yang mereka terima asalkan anak-anak didik mereka mendapatkan ilmu yang layak. Banyak pendidik-pendidik hebat pada jaman itu yang melahirkan anak-anak didik yang hebat juga. Dengan cinta dan penuh kesabaran mereka mendidik. Karena apa? Karena panggilan jiwalah yang membuat mereka yakin bhwa pendidik adalah profesi yang menjanjikan, bukan karena gajinya tetapi karena dedikasinya untuk anak-anak bangsa.
Berbanding terbalik dengan para pendidik pada era global ini. Pendidik  era global kini kurang menjiwai profrsi ini, seolah mangesampingkan idealisme ini. Realitanya kini banyak pendidik yang hanya menginginkan materiilnya saja dari profesi ini, memang tidak munafik jika materiil juga merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting, tetapi jiwa dalam profesi mendidiknya tidak ada, bahkan tanggung jawabnya pun lenyap.
Mengapa saya berani menyatakan seperti ini? Karena selain ini tidak sejalan dengan aliran idealism yang dijelaskan di awal tadi, hal ini pun berdampak pada keseluruhan system pendidikan. Jika pendidiknya saja sudah tidak menjiwai, tidak bertanggung jawab, lalu bagaimana nasib anak-anak didiknya? Akankah dunia pendidikan di Indonesia yang sudah melorot ini main melorot bahkan tak tertutup?. Kualitas pendidik mempengaruhi system dan spirit pembelajaran dalam mendidik, namun jika seperti ini adanya, hancur sudah. Indonesia sudah menempati posisi kedua terbawah di dunia dalam bidang pendidikan, hal ini terjadi karena rendahnya bahkan kurang terpercayanya lulusan-lulusan para pendidik dan lemahnya kualitas para pendidik dalam implementasi kependidikan.
Jika kita kembali mengaitkannya dengan filsafat aliran idealisme, terutama di masa abad pertengahan seperti iini, justru aliran inilah satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua alat pikir adalah dasar idelaisme ini. Idealisme adalah pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, fikiran dan jiwa. Dunia dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan hukum-hukum fikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metoda objektif semata. Terdapat harmoni yang dalam antara manusia dan alam. Alam adalah sistim yang logis dan spiritual, hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Jiwa merupakan bagian yang sebenarnya dari dari proses alam. Proses ini dalam bagian yang tinggi menunjukan dirinya sebagai aktivitas, akal, jiwa atau perorangan. Prinsip idealisme yang pokok adalah kesatuan organik. Kaum idealisme condong untuk menekankan teori koherensi atau konsistensi dalam memperoleh kebenaran. Suatu putusan (judgment) akan benar jika ia sesuai dengan putusan-putusan lain yang sudah diterima sebagai ”benar” .
Pendidik harusnya bisa terbantu untuk hidup kembali jika mereka telah membaca bahkan memahami maksud dan tujuan aliran idealism ini. Bukan justru sebaliknya, tertiup dan melupakannya. Sebenarnya idealism sendiri tidak hanya terpaut di dalam pendiidikan saja, idealism juga berkaitan dengan Tuhan,kebudayaan, tradisi dan aalam. Seperti yang tertera dalam ‘Titus, Smith Nolan, 1984:315-327’, idealisme dikelompokan menjadi tiga yakni : idealisme subyektif, idealisme obyektif dan personalisme.
a.       Idealisme subyektif-immaterialisme yang kadang-kadang disebut mentalisme atau fenomenalisme. Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Menurut idealisme: akal, jiwa dan persepsinya merupakan segala yang ada. Benda-benda seperti pohon dan bangunan itu ada tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Yang menjadi permasalahan bukan benda-benda itu tapi bagaimana mempersepsikannya.
b.       Idealisme Obyektif dengan tokohnya adalah Plato. Pendapatnya bahwa di belakang alam perubahan, emperis, fenomena yang kita lihat dan kita rsakan terdapat alam ideal yaitu alam sensi, form, atau ide. Dunia di bagi menjadi dua yakni : pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia seperti ini bukan dunia sesungguhnya hanya merupakan dunia penampakan saja. Kedua, yakni alam konsep, idee, universal, atau esensi dan abadi. Ide adalah transenden dan asli sedang persepsi dan benda-benda individual adalah copy atau bayangan dari ide tersebut.
c.       Personalisme atau idealisme Personal menganggap realitas dasar bukan pemikiran yang abstrak atau pemikiran yang khusus tetapi merupakan seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Oleh karena personalitas mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada yang lainnya,maka masyarakat harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh kehidupan dan kesempatan yang sebesar-sebesarnya.
Aliran filsafat Idealisme merupakan suatu aliran filsafat yang mengagungkan jiwa. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan, yaitu dunia idea. Pokok pemikiran Idealisme ialah (1) menyakini adanya Tuhan sebagai ide tertinggi dari kejadian alam semesta ini. (2) Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual. (3) Kenyataan sejati ialah bersifat spiritual (4) Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. (5) Idealisme menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. (6) Menurut idealisme, tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia yang berkepribadian mulia dan memiliki taraf kehidupan rohani yang lebih tinggi dan ideal serta memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat.
a)      Metafisika-idealisme: secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih berperan.
b)      Humanologi-idealisme: jiwa dikaruniai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
c)      Epistimologi-idealisme: pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang.
d)     Aksiologi-idealisme: kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.
 Prinsip-prisip Idealisme :
a.       Menurut idealisme bahwa realitas tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide (spirit). Menurut penganut idealisme, dunia beserta bagian-bagianya harus dipandang sebagai suatu sistem yang masing-masing unsurnya saling berhubungan. Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual.
b.      Realitas atau kenyataan yang tampak di alam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau dari ide-ide yang ada dalam jiwa manusia.
c.       Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. Roh pada dasarnya dianggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Demikian pula terhadap alam adalah ekspresi dari jiwa.
d.      Idealisme berorientasi kepada ide-ide yang theo sentris (berpusat kepada Tuhan), kepada jiwa, spiritualitas, hal-hal yang ideal (serba cita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak spiritual, maka kebanyaakan kaum idealisme mempercayai adanya Tuhan sebagai ide tertinggi atau Prima Causa dari kejadian alam semesta ini.
Idealisme mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide-ide. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.
Inti dari Idealisme adalah suatu penekanan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir atau kedirian daripada sebagai suatu penekanan pada objek-objek & daya-daya material. Idealisme menekankan akal pikir (mind) sebagai hal dasar atau lebih dulu ada bagi materi, & bahkan menganggap bahwa akal pikir adalah sesuatu yang nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir atau jiwa (mind). Hal itu sangat berlawanan dengan materialisme yang berpendapat bahwa materi adalah nyata ada,  sedangkan akal-pikir (mind) adalah sebuah fenomena pengiring.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar