Rabu, 03 Desember 2014

Indonesia di mataku



Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau dan sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni. Dengan populasi sekitar  260 juta jiwa pada tahun 2013, menempatkan Indonesia pada posisi ke empat di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak. Negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945 ini tenyata bisa dibilang negara yang sangat beruntung. Ya, Indonesia adalah negara yg beruntung karena berada diantara garis khatulistiwa. Banyak sumber – sumber daya alam yg tertimpah ruah disini. Untuk bumbu dapur,  bisa. Untuk furniture, bisa. Untuk teknologi, juga bisa. Semua bisa di Indonesia.
Bukan  hanya sumber daya alamnya saja yang kaya, melainkan kebudayaan Indonesia pun sangat kaya. Bayangkan saja hanya Indonesia yg memiliki berpuluh – puluh bahkan sampai ratusan suku, adat istiadat di dunia. Belum lagi Indonesia memiliki 742 bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Batapa kayanya negeri kita ini, memiliki sumber alam dan kebudayaan yang sangat melimpah. Namun itu semua tidak seimbang dengan sumber daya manusia yang ada. Disadari atau tidak, sumber daya manusia yang ada di Indonesia sungguh memprihatinkan. Sebenarnya sumber daya manusia di Indonesia bisa sangat jauh lebih baik, jika pemerintah mampu memberikan kebijakan, pelatihan, juga kesempatan  bagi para sumber daya manusia yang ada agar bisa menyeimbangkan sumber daya alam tersebut. Kini terlihat jelas, pengangguran di Indonesia cukup banyak, yang pada akhirnya memicu lahirnya tindakan kriminalitas, premanitas dan sebagainya.
Menela’ah lebih jauh tentang Indonesia, hamparan alam yang luas dan membentang sepanjang Indonesia membuat bangsa lain terkadang iri dan ingin memilikinya, Seharusnya kita bisa mengolah semua yang tertanam di Indonesia , bukan malah meberikannya pada bangsa-bangsa penjajah. Apa keuntungan kita menyerahkan itu  semua? Indonesia terkenalkah ? Indonesia berubah menjadi negara majukah? Indonesia bisa melunasi hutang-hutangnyakah ?. Tidak semudah itu ! Indonesia memang terkenal karena sumber daya alamnya, tetapi Indonesia juga terkenal dengan kemudahannya memberikan sumber daya alam yang ada di dalam Tanah Airnya, sadarkah kita akan hal itu? Sebagai bukti, Indonesia membiarkan bangsa asing menguasai Papua yang terkenal dengan timah –timah dan batu baranya sampai detik ini. Bukan hanya timah ataupun batu bara yang mereka dapatkan, melainkan emas dan sumber – sumber daya alam yang lainpun mereka dapatkan dalam satu penggalian. Keuntungan yang diberikan bagi bangsa Indonesia dan penduduk asli Papua hanya sedikit, bahkan sangat jauh dari keuntungan mereka yang terus menerus menggali bahan-bahan alam yang ada. Licik memang, tapi itulah Bodohnya bangsa Indonesia. Masyarakat papua kini menjadi budak di Negerinya sendiri, penjadi penonton yang amat setia dan menjadi korban dampak penggalian tersebut. Hilang mutiara- mutiara hitam Papua.
Kata – kata Indonesia menjadi negara maju nampaknya masih sangat jauh, jika seluruh masyarakatnya masih egois dan tak mau bangkit dari keterpurukan yang ada. Ada sebuah statement yang mengatakan “Indonesia akan jauh lebih maju dari negara – negara maju sebelumnya beberapa dekade lagi, sebab hanya otak – otak warga Indonesialah yang masih sedikit digunakan untuk berfikir, tidak seperti bangsa lain”. Benarkah statement tersebut? Kiranya jika di amati secara rinci, yang menghambat perubahan ataupun majunya Indonesia hanyalah faktor kemalasan masyarakatnya itu sendiri, bukan hanya faktor eksternal saja.
Membahas tentang hutang piutang Indonesia pada Bank dunia, jelas kiranya masih jauh dari kata pelunasan. Untuk membayar bunganya pun dirasa masih belum cukup. Jika labanya pun masih jauh dari cukup lalu bagaimana dengan pokoknya ? masih sangat jauh.
Menginginkan Indonesia berubah nampaknya harus dimulai dari sistem pendidikannya. Mengapa harus pendidikannya? Karena jika pendidikannya sudah mulai tertata dengan benar maka sistem ekonomi maupun kesehatan pasti akan berubah searah dengan perubahan yang di lakukan di system Pendidikan. Bukan hanya ekonomi nampaknya yang akan berubah tapi sistem pemerintahan pun harus ikut berubah. Sistem pemerintahan harus benar – benar asli Indonesia tanpa adanya campur tangan bangsa lain. Pancasila yang di usung sebagai ideologi harus diterapkan sebagai mana mestinya, bukan hanya sebatas formalitas saja. Hukum pun harus ditegakan seadil – adilnya tanpa harus melihat siapa dia, dan apa jabatannya. Semua harus jelas dan bertumpu pada Undang -  Undang Republik Indonesia juga Pancasila, bukan dengan uang.
Berbicara hukum di Indonesia, akhir-akhir ini Indonesia sedang dilanda kasus Korupsi yang tak ada henti – hentinya dan tak berujung, juga kasus kekerasan pada anak, baik dari segi fisik dan segi psikis. Banggakah kita mendengar Indonesia masuk kedalam deretan kesebelas negara paling korup di dunia (Transparency International 2003). Bahkan menurut Global Corruption Report tahun 2004, mantan Presiden Indonesia Soeharto menjadi orang nomor satu CEO paling korup di dunia. Berapa banyak hak – hak warga masyarakat yang di makan oleh para koruptor tersebut? Seandainya saja uang – uang itu memang terpakai untuk keharusannya, mungkin Indonesia bisa lebih baik dari sekarang.  Selain itu kasus kekerasan pada anak yang terjadi akhir-akhir ini merupakan dampak dari berkurangnya moral maupun kasih sayang sesama manusia. Bukankah Indonesia terkenal dengan keramahannya, bukan karena kekerasannya? Dampak globalisasi dan modernisasipun salah satu pemicu kekerasan ini terjadi. Krisis moral mungkin lebih tepat dikatakan. Pemahaman mengenai agama berkurang dan imbasnya terjadilah hal seperti ini.
Dibalik kemirisan Indonesia, Indonesia memiliki berjuta – juta keindahan di dalamnya. Mulai dari pantai, laut, pulau, flora dan fauna. Indonesia memiliki dua binatang purba yang masih tetap hidup sampai sekarang walau kini keberadaanny sangat terancam, seperti Komodo yang ada di Pulau Lombok, juga Badak bercula satu yang berada di Ujung Kulon.


Filsafat aliran idealisme - ‘Tertiupnya Jiwa Para Pendidik’



Para pendidik adalah seorang contoh ataupun panutan bagi para peserta didiknya. Bukan hanya untuk peserta didiknya saja tapi masyarakat sekitarpun sangat segan bahkan menganggap tenaga pendidik (guru, dosen, dsb) adalah dewa yg dimana setiap ucapannya adalah kalimat-kalimat ajaib. Berbicara mengenai para pendidik atau dalam kata lain guru nampaknya sangat menarik, melihat kini banyaknya para pendidik yang bejublak membeludar menekuni dan mengambil profesi ini. Tapi, apakah kita tahu tentang idealnya guru dalam filsafat idealisme pendidikan bagaimana?
Kita tahu bahwasanya ‘ideal’ adalah sebuah kata yang bermakna kesesuaian, kecocokan. Berbeda dengan kata ‘idealisme’ dalam lingkup filsafat. Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide dari pada kata ideal. Secara ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealis memenekankan mind sebagai hal yang lebih dahulu (primer) dari pada materi. Akal adalah yang riil sedang materi adalah produk sampingan. Dengan demikan maka idealisme menganggap bahwa dunia pada dasarnya hanya sebuah mesin besar dan harus ditafsirkan sebagai materi atau kekuatan saja.
 Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.
Membahas tentang idealisme dan pendidik nampak cukup menarik Terpapar jelas di atas penjelasan mengenai arti idealisme baik dari segi umum maupun filsafat, dan dapat disimpulkan memang adanya suatu keharusan bagi para pendidik untuk menerapkan dan memahami aliran filsafat yang satu ini. Mengapa? Karena agar para pendidik paham tentang profesinya, dan lebih menjiwai profesinya.
Mengapa harus menjiwai? Disini dipaparkan secara jelas pemahaman idealisme, yang dimana dikatakan diatas tadi, yaitu merupakan sebuah realitas yang terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal dan jiwa bukan benda material dan kekuatan. Hal itu terjadi kata idelisme sendiri berasal dari kata idea yang berarti sesuattu yang hadir dalam jiwa. Jika sudah jelas defininya seperti ini lalu mengapa masih banyak para pendidik yang kurang menjiwai profesi ini? Bukankah menjadi seorang pendidik bukan hanya sebuah profesi melainkan panggilan jiwa?
Semua kembali pada prinsip dan pandangan masyarakat awam menngenai pendidik. Dahulu orang yang mengambil profesi sebagai pendidik dianggap sebagai sebuah profesi yang tidak menjanjikan untuk masa depan. Bayangkan saja, gaji deorang pendidik pada saat itu jauh dari kata cukup, hingga akhirnya banyak dari pada pendidik kita mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhannya itu. Walaupun seperti itu, para pendidik pada jaman itu bekerja mendidik anak bangsa dengan penuh dedikasi, penuh dengan jiwa, walau nyatanya gaji mereka tak sebanding dengan pengorbanan mereka. Alhasil karena mereka menjiwai profesi itu dan spirit mendidiknya sangat tinggi, tak masalah gaji berapapun yang mereka terima asalkan anak-anak didik mereka mendapatkan ilmu yang layak. Banyak pendidik-pendidik hebat pada jaman itu yang melahirkan anak-anak didik yang hebat juga. Dengan cinta dan penuh kesabaran mereka mendidik. Karena apa? Karena panggilan jiwalah yang membuat mereka yakin bhwa pendidik adalah profesi yang menjanjikan, bukan karena gajinya tetapi karena dedikasinya untuk anak-anak bangsa.
Berbanding terbalik dengan para pendidik pada era global ini. Pendidik  era global kini kurang menjiwai profrsi ini, seolah mangesampingkan idealisme ini. Realitanya kini banyak pendidik yang hanya menginginkan materiilnya saja dari profesi ini, memang tidak munafik jika materiil juga merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting, tetapi jiwa dalam profesi mendidiknya tidak ada, bahkan tanggung jawabnya pun lenyap.
Mengapa saya berani menyatakan seperti ini? Karena selain ini tidak sejalan dengan aliran idealism yang dijelaskan di awal tadi, hal ini pun berdampak pada keseluruhan system pendidikan. Jika pendidiknya saja sudah tidak menjiwai, tidak bertanggung jawab, lalu bagaimana nasib anak-anak didiknya? Akankah dunia pendidikan di Indonesia yang sudah melorot ini main melorot bahkan tak tertutup?. Kualitas pendidik mempengaruhi system dan spirit pembelajaran dalam mendidik, namun jika seperti ini adanya, hancur sudah. Indonesia sudah menempati posisi kedua terbawah di dunia dalam bidang pendidikan, hal ini terjadi karena rendahnya bahkan kurang terpercayanya lulusan-lulusan para pendidik dan lemahnya kualitas para pendidik dalam implementasi kependidikan.
Jika kita kembali mengaitkannya dengan filsafat aliran idealisme, terutama di masa abad pertengahan seperti iini, justru aliran inilah satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua alat pikir adalah dasar idelaisme ini. Idealisme adalah pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, fikiran dan jiwa. Dunia dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan hukum-hukum fikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metoda objektif semata. Terdapat harmoni yang dalam antara manusia dan alam. Alam adalah sistim yang logis dan spiritual, hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Jiwa merupakan bagian yang sebenarnya dari dari proses alam. Proses ini dalam bagian yang tinggi menunjukan dirinya sebagai aktivitas, akal, jiwa atau perorangan. Prinsip idealisme yang pokok adalah kesatuan organik. Kaum idealisme condong untuk menekankan teori koherensi atau konsistensi dalam memperoleh kebenaran. Suatu putusan (judgment) akan benar jika ia sesuai dengan putusan-putusan lain yang sudah diterima sebagai ”benar” .
Pendidik harusnya bisa terbantu untuk hidup kembali jika mereka telah membaca bahkan memahami maksud dan tujuan aliran idealism ini. Bukan justru sebaliknya, tertiup dan melupakannya. Sebenarnya idealism sendiri tidak hanya terpaut di dalam pendiidikan saja, idealism juga berkaitan dengan Tuhan,kebudayaan, tradisi dan aalam. Seperti yang tertera dalam ‘Titus, Smith Nolan, 1984:315-327’, idealisme dikelompokan menjadi tiga yakni : idealisme subyektif, idealisme obyektif dan personalisme.
a.       Idealisme subyektif-immaterialisme yang kadang-kadang disebut mentalisme atau fenomenalisme. Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Menurut idealisme: akal, jiwa dan persepsinya merupakan segala yang ada. Benda-benda seperti pohon dan bangunan itu ada tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Yang menjadi permasalahan bukan benda-benda itu tapi bagaimana mempersepsikannya.
b.       Idealisme Obyektif dengan tokohnya adalah Plato. Pendapatnya bahwa di belakang alam perubahan, emperis, fenomena yang kita lihat dan kita rsakan terdapat alam ideal yaitu alam sensi, form, atau ide. Dunia di bagi menjadi dua yakni : pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia seperti ini bukan dunia sesungguhnya hanya merupakan dunia penampakan saja. Kedua, yakni alam konsep, idee, universal, atau esensi dan abadi. Ide adalah transenden dan asli sedang persepsi dan benda-benda individual adalah copy atau bayangan dari ide tersebut.
c.       Personalisme atau idealisme Personal menganggap realitas dasar bukan pemikiran yang abstrak atau pemikiran yang khusus tetapi merupakan seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Oleh karena personalitas mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada yang lainnya,maka masyarakat harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh kehidupan dan kesempatan yang sebesar-sebesarnya.
Aliran filsafat Idealisme merupakan suatu aliran filsafat yang mengagungkan jiwa. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan, yaitu dunia idea. Pokok pemikiran Idealisme ialah (1) menyakini adanya Tuhan sebagai ide tertinggi dari kejadian alam semesta ini. (2) Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual. (3) Kenyataan sejati ialah bersifat spiritual (4) Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. (5) Idealisme menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. (6) Menurut idealisme, tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia yang berkepribadian mulia dan memiliki taraf kehidupan rohani yang lebih tinggi dan ideal serta memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat.
a)      Metafisika-idealisme: secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih berperan.
b)      Humanologi-idealisme: jiwa dikaruniai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
c)      Epistimologi-idealisme: pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang.
d)     Aksiologi-idealisme: kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.
 Prinsip-prisip Idealisme :
a.       Menurut idealisme bahwa realitas tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide (spirit). Menurut penganut idealisme, dunia beserta bagian-bagianya harus dipandang sebagai suatu sistem yang masing-masing unsurnya saling berhubungan. Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual.
b.      Realitas atau kenyataan yang tampak di alam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau dari ide-ide yang ada dalam jiwa manusia.
c.       Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. Roh pada dasarnya dianggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Demikian pula terhadap alam adalah ekspresi dari jiwa.
d.      Idealisme berorientasi kepada ide-ide yang theo sentris (berpusat kepada Tuhan), kepada jiwa, spiritualitas, hal-hal yang ideal (serba cita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak spiritual, maka kebanyaakan kaum idealisme mempercayai adanya Tuhan sebagai ide tertinggi atau Prima Causa dari kejadian alam semesta ini.
Idealisme mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide-ide. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.
Inti dari Idealisme adalah suatu penekanan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir atau kedirian daripada sebagai suatu penekanan pada objek-objek & daya-daya material. Idealisme menekankan akal pikir (mind) sebagai hal dasar atau lebih dulu ada bagi materi, & bahkan menganggap bahwa akal pikir adalah sesuatu yang nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir atau jiwa (mind). Hal itu sangat berlawanan dengan materialisme yang berpendapat bahwa materi adalah nyata ada,  sedangkan akal-pikir (mind) adalah sebuah fenomena pengiring.

Filsafat Idealisme



Idealisme terkadang merupakan suatu patokan untuk menjadi inti dari yang dituju. Idealis sendiri dalam bahasa sehari-hari berartikan sebagai sesuatu yang benar dan harus selalu benar; sesuai; dan memantaskan. Tetapi berbeda dengan istilah idealis dalam tatanan dunia filsafat. Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanyadapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan roh (spirit).Istilah ini diambildari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide dari pada kata ideal. Secara ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Idealis memenekankan mind sebagai hal yang lebih dahulu (primer) dari pada materi. Akal adalah yang riil sedang materi adalah produk sampingan. Dengan demikan maka idealisme menganggap bahwa dunia pada dasarnya hanya sebuah mesin besar dan harus ditafsirkan sebagai materi atau kekuatan saja.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya
dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yakni seseuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme mempunyai argumen epistemology tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato, yang menyatakan bahwa alam idea itu merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu. Aristoteles memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua alat pikir adalah dasar idelaisme ini.
Pada zaman Aufklarung para filsuf yang mengakui aliran serbadua, seperti Descartes dan Spinoza, yang mengenal dua pokok yang bersifat keruhanian dan kebendaan maupun keduanya, mengakui bahwa unsur keruhanian lebih penting dari pada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak zaman idealisme pada masa abad ke-18 dan 19, yaitu saat Jerman sedang memiliki pengaruh besar di Eropa.
Idealisme adalah pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas ide, fikiran dan jiwa. Dunia dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan hukum-hukum fikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metoda objektif semata. Terdapat harmoni yang dalam antara manusia dan alam. Alam adalah sistim yang logis dan spiritual, hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Jiwa merupakan bagian yang sebenarnya dari dari proses alam. Proses ini dalam bagian yang tinggi menunjukan dirinya sebagai aktivitas, akal, jiwa atau perorangan. Prinsip idealisme yang pokok adalah kesatuan organik. Kaum idealisme condong untuk menekankan teori koherensi atau konsistensi dalam memperoleh kebenaran. Suatu putusan (judgment) akan benar jika ia sesuai dengan putusan-putusan lain yang sudah diterima sebagai ”benar” .(Titus , Smith, Nolan.1984, hal 316) Idealisme dikelompokan menjadi tiga yakni : idealisme subyektif, idealisme obyektif dan personalisme. (Titus, Smith Nolan, 1984:315-327)
a. Idealisme subyektif-immaterialisme yang kadang-kadang disebut mentalisme atau fenomenalisme. Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia. Menurut idealisme: akal, jiwa dan persepsinya merupakan segala yang ada. Benda-benda seperti pohon dan bangunan itu ada tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Yang menjadi permasalahan bukan benda-benda itu tapi bagaimana mempersepsikannya.
Tokoh dari aliran ini adalah George Berkeley dengan filsafatnya : Immaterialisme. Ia mengatakan bahwa ide itu ada dan dipersepsikan oleh akal. ”Ada berarti dipersepsikan,” Akal adalah yang melakukan persepsi. Tak mungkin ada benda atau persepsi tanpa seseorang mengetahui benda atau persepsi tersebut jadi benda dipersepsikan oleh akal.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari filsafat ini adalah, kecenderungan untuk bersifat egoistis “Aku-isme” yang hanya mengakui yang riil adalah dirinya sendiri yang ada hanya “Aku”, segala sesuatu yang ada diluar selain “Aku” itu hanya sensasi atau konsepsi-konsepsi dari “Aku”. Untuk berkelit dari tuduhan egoistis dan mengedepankan “Aku-isme/solipisme” Berkeley menyatakan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada sensasi. Pandangan-pandangan idealisme subyektif dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tidak jarang kita temui perkataan-perkataan seperti ini :
“Baik buruknya keadaan masyarakat sekarang tergantung pada orang yang menerimanya, ialah baik bagi mereka yang menganggapnya baik dan buruk bagi mereka yang menganggapnya buruk.”
“kekacauan sekarang timbul karena orang yang duduk dipemerintahan tidak jujur, kalau mereka diganti dengan orang-orang yang jujur maka keadaan akan menjadi baik.”
“aku bisa, kau harus bisa juga,” dsb.
b. Idealisme Obyektif dengan tokohnya adalah Plato. Pendapatnya bahwa di belakang alam perubahan, emperis, fenomena yang kita lihat dan kita rsakan terdapat alam ideal yaitu alam sensi, form, atau ide. Dunia di bagi menjadi dua yakni : pertama, dunia persepsi, dunia penglihatan, suara dan benda-benda individual. Dunia seperti ini bukan dunia sesungguhnya hanya merupakan dunia penampakan saja. Kedua, yakni alam konsep, idee, universal, atau esensi dan abadi. Kita mengenal benda-benda ideal karena kita mengetahui konsep-konsep dari contoh-contoh dunia abadi. Ide adalah transenden dan asli sedang persepsi dan benda-benda individual adalah copy atau bayangan dari ide tersebut.
Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya. Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme. Kaum doktriner dan formalis secara membuta mempercayai dalil-dalil atau teori sebagai kekuatan yang maha kuasa , sebagai obat manjur buat segala macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugas-tugas atau menyelesaikan persoalan-persoalan praktis mereka tidak bisa berfikir atau bertindak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat yang kongkrit, mereka adalah kaum “textbook-thingking”.
c. Personalisme atau idealisme Personal menganggap realitas dasar bukan pemikiran yang abstrak atau pemikiran yang khusus tetapi merupakan seseorang, suatu jiwa atau seorang pemikir. Realitas termasuk dalam personalitas yang sadar, oleh karena itu realitas bersifat pluralistik. Kelompok ini menekankan realitas dan harga diri, nilai moral an kemerdekaa manusia. Bagi kelpompok personalis, manusia mengatasi alam jika ia mengadakan interpretasi terhadap alam ini. Sains mengatasi matrialnya dengan teori-teorinya, alam nilai menjangkau lebih jauh lebih jauh daripada alam semesta sebagai penjelasan terakhir. Sebagai aliran idealisme, personal menunjukkan perhatian yang besar pada etika dan lebih sedikit pada logika di banding dengan aliran idealisme mutlak. Oleh karena personalitas mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada yang lainnya,maka masyarakat harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap orang dapat memperoleh kehidupan dan kesempatan yang sebesar-sebesarnya.
Idealisme (plato) condong untuk menghormati kebudayaan dan tradisi. Mereka menganggap nilai-nilai kehidupan mempunyai dasar dalam bidang yang lebih tinggi daripada sekedar kelompok individual atau sosial. Kelompok idealisme modern ( Descartes, Leibsnitz) dan kelompok personalia kontemporer lebih mnenekankan pada person atau kesadaran pribadi artinya manusia dianggap sebagai pelaku nilai yang dapat mengungkapkan nilai-nilai.
Idealisme menerima penjelasan ilmiah yang modern tentang alam, dan memberi tempat kepada agama. Nilai-nilai moral dan agama terdapat dalam alam, maka idealisme sesuai dengan banyak institusi dan aspirasi manusia. Pengikut aliran ini memberi dukungan moral pada institusi spritual manusia. Daya tarik idealisme didasarkan atas aspirasi moral manusia dan tidak hanya atas logika atau epistemologi. Kekuatan idealisme terletak pada tekanannya terhadap person (pribadi) dan segi mental spritual dari kehidupan. Sebagai falsafi, membenarkan bahwa pribadi itun mempunyai arti dan harga diri. Manusia memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada lembaga- lembaga dan benda –benda.
Aliran filsafat Idealisme merupakan suatu aliran filsafat yang mengagungkan jiwa. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan, yaitu dunia idea. Pokok pemikiran Idealisme ialah (1) menyakini adanya Tuhan sebagai ide tertinggi dari kejadian alam semesta ini. (2) Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual. (3) Kenyataan sejati ialah bersifat spiritual (4) Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. (5) Idealisme menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. (6) Menurut idealisme, tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia yang berkepribadian mulia dan memiliki taraf kehidupan rohani yang lebih tinggi dan ideal serta memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat.
Idealisme mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide-ide. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.
Inti dari Idealisme adalah suatu penekanan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir atau kedirian daripada sebagai suatu penekanan pada objek-objek & daya-daya material. Idealisme menekankan akal pikir (mind) sebagai hal dasar atau lebih dulu ada bagi materi, & bahkan menganggap bahwa akal pikir adalah sesuatu yang nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir atau jiwa (mind). Hal itu sangat berlawanan dengan materialisme yang berpendapat bahwa materi adalah nyata ada,  sedangkan akal-pikir (mind) adalah sebuah fenomena pengiring.
a)      Metafisika-idealisme: secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih berperan.
b)      Humanologi-idealisme: jiwa dikaruniai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
c)      Epistimologi-idealisme: pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang.
d)     Aksiologi-idealisme: kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.
 Prinsip-prisip Idealisme :
a.       Menurut idealisme bahwa realitas tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide (spirit). Menurut penganut idealisme, dunia beserta bagian-bagianya harus dipandang sebagai suatu sistem yang masing-masing unsurnya saling berhubungan. Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual.
b.      Realitas atau kenyataan yang tampak di alam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau dari ide-ide yang ada dalam jiwa manusia.
c.       Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. Roh pada dasarnya dianggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Demikian pula terhadap alam adalah ekspresi dari jiwa.
d.      Idealisme berorientasi kepada ide-ide yang theo sentris (berpusat kepada Tuhan), kepada jiwa, spiritualitas, hal-hal yang ideal (serba cita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak spiritual, maka kebanyaakan kaum idealisme mempercayai adanya Tuhan sebagai ide tertinggi atau Prima Causa dari kejadian alam semesta ini.



Sumber :
REGION Volume I. No. 1. Maret 2009 8