Minggu, 02 Agustus 2015

Bahan/Isi Kurikulum



Telaah Kurikulum
Bahan/Isi Kurikulum


Oleh kelompok 2 (Bahan/Isi)
Ahmad afriansah
Jamilatul Afiah
Novia Anggraeni
Rika Agustiani
Selly Mila Andriani
Yuniar Lestari
Nur Alifa Adiratna


IV/D PGSD
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa



BAHAN/ISI
A.    Pengertian Bahan/Isi
ü  Material atau bahan adalah zat atau benda yang dari mana sesuatu dapat dibuat darinya, atau barang yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu. Bahan kadangkala digunakan untuk menunjuk ke pakaian atau kain. Banyak pendapat mengenai pengertian bahan bacaan dan bahan pustaka. Masing – masing pengertian mempunyai perspektif sendiri – sendiri. Kedua istilah ini terdiri dari 2 suku kata, yaitu bahan dan bacaan, serta bahan dan pustaka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Bahan diartikan segala sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu. Sedangkan bacaan memiliki arti buku dsb. yang dibaca. Sedangkan pustaka mempunyai arti buku.
ü  isiadalah sesuatu yg ada (termuat, terkandung, dsb) di dl suatu benda dsb.
Apabila kita bertanya apa sesungguhnya yang kita maksudkan dengan perkataan tertentu, maka yang kita tanyakan ialah isi pengertian atau perkataan itu, seperti kata “ pegawai negeri “, jika kita selidiki arti atau isinya maka ada berbagai unsur yang terkandung didalamnya.
ü  Isi kurikulum berkenaan dengan pengetahuan ilmiah dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada siswa untuk dapat mencapai tujuan pendidikan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan ilmiah maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat dan jenjang pendidikan, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat menyangkut tuntutan dan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
ü  Bahan Adalah Sesuatu yang ada (Termuat, Terkandung, Dsb) Di dalam suatu benda Dsb: -- Gudang Itu Pupuk Dan Alat-Alat Pertanian; 2 Besarnya Suatu Ruangan; Volume: -- Kaleng Itu 20 Liter; 3 Apa yang tertulis di dalamnya (Tentang Buku, Surat, Dsb); 4 Inti Atau Bagian Yg Pokok Dr Suatu Wejangan (Pidato, Pem-Bicaraan, Dsb); 
ü  Isi Adalah Sesuatu Yang Menempati Suatu Ruang/ Wadah/Pikiran yang dapat dikembangkan
ü  Bahan adalah (segala) sesuatu yg dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu, spt untuk pedoman atau pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah; sesuatu yg menjadi sebab (pangkal) atau sikap (perbuatan).
ü  Gall (1981) mendefinisikan bahan kurikulum sebagai: Curriculum materials are physical entities, representational in nature, used to facilitate the learning process.jadi, menurut Gall bahan kurikulum adalah sesuatu yang mempunyai sifat fisik, sifat mewakili dan dipergunakan untuk mempermudah proses belajar.
ü  Entity fisek (physical entities) adalah bahan kurikulum itu merupakan objek yang dapat diobservasi, bukan hanya berupa ide-ide atau konsep. Dengan demikian, tujuan pengajaran tidak termasuk bahan kurikulum karena ia tak dapat dilihat. Buku-buku teks dan lain-lain yang sejenis yang merupakan media cetak, film, program rekama, dan lain-lain adalah contoh-contoh bahan kurikulum yang dapat diobservasi.
ü  Bahan yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat menyampaikan sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri. Bahan kurikulum yang representational ini perlu dibedakan dengan sarana kurikulum seperti alat-alat tulis, model, organisme biologis, dan sebagainya walau yang disebut terakhir itu juga memberikan fasilitas belajar.
ü  Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah bahai itu secara sungguh-sungguh memberikan fasilitas belajar. Jadi, bahan tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud atau mempermudah pengajaran.

B.     Bahan Ajar Atau Learning Material
Bahan Ajar atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai bahan untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam penyajiannya berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Dengan demikian, bahan pembelajaran pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan dan keterampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep, prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dilihat dari aspek fungsi, bahan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara langsung dan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung. Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan ajar utama yang menjadi rujukan wajib dalam pembelajaran. Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan bahan-bahan panduan utama lainnya. Bahan pembelajaran dikembangkan mengacu pada kurikulum yang berlaku, khususnya yang terkait dengan tujuan dan materi kurikulum seperti kompetensi, standar materi dan indikator pencapaian.
Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan penunjang yang berfungsi sebagai pelengkap. Contohnya adalah buku bacaan, majalah, program video, leaflet, poster, dan komik pengajaran. Bahan pembelajaran ini pada umumnya disusun di luar lingkup materi kurikulum, tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan utamanya yaitu memberikan pendalaman dan pengayaan bagi siswa.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).

C.     Fungsi Bahan Ajar
Fungsi bahan ajar, yaitu:
ü  Memfasilitasi kegiatan pembelajaran mandiri peserta didik, baik tentang subtansi maupun tentang penyajiannya yang memasukkan sejumlah prinsip yang dapat meningkatkan kompetensi yang hendak dimiliki peserta didik.
ü  Bagi pengajar, bahan ajar berfungsi untuk pengembangan kompetensi peserta didik, sebab melalui buku ajar, pengajar memiliki kebebasan dalam memiliki, mengembangkan dan menyajikan materi sejalan dengan prinsip-prinsip intsruksional untuk mencapai tujuan pembelajaran.

D.    Prinsip-prinsip Pemilihan Bahan Ajar
ü  Learner centered principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika mereka diperlakukan sebagai individu dengan kebutuhan dan ketertarikan mereka sendiri (needs and interest).
ü  Active involvement principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika kepada mereka diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa itu dalam aktivitas yang bervariasi.
ü  Immerson principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika aktivitas komunikatif yang diberikan kepada mereka dapat dipahami (comprehensible) dan relevan dengan kebutuhan dan ketertarikan mereka.
ü  Focusing principle yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika mereka fokus pada bentuk dan ketrampilan bahasa yang bervariasi, dan strategi belajar yang bervariasai untuk mendukung proses pemerolehan bahasa.
ü  Sociocultural principle yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika mereka menyadari tentang peran, fungsi, dan sifat bahasa itu.
ü  Awarnes principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik apabila mereka menyadari peran dan sifat bahasa itu sendiri
ü  Assesment principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika mereka diberikan umpan balik yang sesuai tentang perkembangan yang mereka capai
ü  Responsibility principle, yaitu siswa akan belajar bahasa dengan baik jika mereka diberikan kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri

E.     Prinsip-prinsip Penyusunan Bahan Ajar
Mempertimbangkan karakter siswa. Berhubungan dengan isu-isu seperti kesesuaian tingkat kesulitan bahan ajar dengan tingkat keterampilan berbahasa siswa, bagaimana bahan ajar dapat menantang siswa tanpa membuat mereka frustasi, dan bagaimana bahan ajar dapat mengakomodasi kebutuhan dan ketertarikan siswa.
Mempertimbangkan tujuan pembelajaran. Pertimbangan ini menyangkut bagaimana bahan ajar mendukung pencapaian kompetensi yang dituntut dalam kurikulum, meningkatkan pengetahuan siswa, mendukung siswa bertanggung jawab atas belajarnya sendiri.
Mempertimbangkan kebutuhan dan ketertarikan guru (teacher’s needs and preferences consideration). Berhubungan dengan isu bagaimana bahan ajar dapat mengeksploitasi dan bukan membatasi keahlian guru.
Mempertimbangkan kepraktisan dan kelaziman (practicalities and general consideration). Berhubungan dengan kriteria bahwa bahan ajar harus mempunyai tampilan yang imaginatif dan menarik, ekonomis dari segi pemanfaatn waktu pemakaiannya, dan harus memungkinkan siswa dapat aktif terlibat dalam pemakaiannya.
F.     Jenis-Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar jika dikelompokkan menurut jenisnya ada 4 jenis yakni bahan cetak (material printed) seperti handout, modul, buku, lembar kerjasiswa, brosur, foto/gambar dan model. Bahan ajar dengar seperti kaset,radio, piringan hitam dan compact disk audio. Bahan ajar pandang denganseperti video compact disk dan film. Bahan ajar interaktif seperti compactdisk interaktif.

G.    Peran Bahan Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran
1)      Peran Bahan Pembelajaran Bagi Guru:
ü  Wawasan bagi guru untuk pemahaman substansi secara komprehensif
ü  Sebagai bahan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
ü  Mempermudah guru dalam mengorganisasikan pembelajaran di kela
ü   Mempermudah guru dalam penentuan metoda pembelajaran yang tepat serta sesuai kebutuhan siswa
ü  Merupakan media pembelajaran
ü  Mempermudah guru dalam merencanakan penilaian pembelajaran.
2)      Peran Bahan Pembelajaran Bagi Siswa
ü  Sebagai pegangan siswa dalam penguasaan materi pelajaran untuk mencapai kompetensi yang dicanangkan.
ü  Sebagai informasi atau pemberi wawasan secara mandiri di luar yang disampaikan oleh guru di kelas.
ü  Sebagai media yang dapat memberikan kesan nyata berkaitan dengan materi yang harus dikuasai.
ü  Sebagai motivator untuk mempelajari lebih lanjut tentang materi tertentu.
ü  Mengukur keberhasilan penguasaan materi pembelajaran secara mandiri.
3)      Peran Bahan Pembelajaran Bagi Pihak Terkait
ü  Dapat mendorong pihak terkait untuk memfasilitasi pengadaan bahan pembelajaran yang dibutuhkan guru dan murid di sekolah.
ü  Dapat meberi masukan kepada guru atau penyusun bahan pembelajaran agar bahan pembelajaran tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa dengan segenap lingkungannya.
ü  Dapat membantu dalam pemilihan dan penetapan media serta alat pembelajaran lainnya yang mendukung keberhasilan penguasaan bahan pembelajaran oleh siswa.
ü  Sebagai alat pemberian reward (penghargaan) terhadap guru yang secara kreatif menyusun serta mengembangkan bahan pembelajaran.

H.    Karakteristik Bahan Ajar
Suatu bahan pembelajaran yang baik memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri yang melekat pada bahan ajar yang disajikan (disusun) merupakan ciri khas yang membedakan antara bahan pembelajaran yang baik dengan bahan pembelajaran yang tidak baik.Bahan pembelajaran yang baik memenuhi syarat substansial dan penyajian sebagai berikut:
a.       Secara substansial bahan pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Sesuai dengan visi dan misi sekolah
Visi merupakan wawasan jauh ke depan yang menunjukkan arah bagi pencapaian tujuan. Sedangkan misi merupakan gambaran tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga, dalam hal ini sekolah/madrasah. Visi dan misi sekolah dalam pencapaiannya diwujudkan melalui proses pembelajaran, sedangkan proses pembelajaran dibanguna diantaranya karena adanya bahan pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran yang disusun harus sesuai dengan visi, misi, karena bahan pembelajaran itu sendiri merupakan sarana materi yang akan disampaikan pada siswa dalam upaya mencapai visi dan misi sekolah.
2) Sesuai dengan kurikulum
Kurikulum yang dimaksud adalah seperangkat program yang harus ditempuh siswa dalam penyelesaian pendidikannya. Paling tidak, secara sempit kurikulum meliputi aspek tujuan/kompetensi, indikator hasil materi, metoda dan penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar, dalam hal ini merupakan pengembangan materi pembelajaran hendaknya senantiasa sesuai dengan tujuan/kompetensi, materi dan indikator keberhasilan.
3) Menganut azas ilmiah
Ilmiah yang dimaksud adalah bahan ajar tersebt disusun dan disajikan secara sistematis (terurai dengan baik) metodologis (sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan).
4) Sesuai dengan kebutuhan siswa
Bahan ajar merupakan hal yang harus dicerna dan dikuasai siswa. Dengan demikian bahan ajar disusun semata-mata untuk kepentingan siswa. Oleh karena itu, maka bahan ajar yang disusun hendaknya sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu sesuai dengan tingkat berpikir, minat, latar sosial budaya dimana siswa itu berada.
b.      Memenuhi kriteria penyajian, yang meliputi:
1)      Memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi
Bahan pembelajaran yang disusun hendaknya memiliki derajat keterbacaan yang tinggi, dalam arti bahasa yang disajikan menggunakan struktur kalimat dan kosa kata yang baik, bentuk kalimat sesuai tata bahasa, dan isi pesan yang disampaikan melalui huruf, gambar, photo dan ilustrasi lainnya memiliki kebermaknaan yang tinggi.
2)      Penyajian format dan fisik bahan pembelajaran yang menarik
Format dan fisik bahan pembelajaran juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini berkaitan dengan tata letak (layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna, gambar komposisi, kualitas dan ukuran kertas, penjilidan, dsb. Format dan fisik bahan ajar sebenarnya merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar tersebut diterbitkan), tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana format dan fisik bahan ajar yang diinginkan.

I.       Hubungan Pengembangan Kurikulum dan Penyelesaian Bahan
Pengembangan bahan kurikulum merupakan salah satu bagian dari pengembangan kurikulum secara keseluruhan. Adanya penggantian kurikulum yang berlaku biasanya juga dimaksudkan untuk memajukan sekolah. Usaha memajukan sekolah itu sendiri antara lain juga ditempuh melalui strategi memasukkan bahan-bahan pengajaran yang baru kedalam program sekolah yang bersangkutan. Bahan pengajaran yang dimaksud harus lebih dahulu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuan pengajaran di sekolah itu secara keseluruhan.
Kurikulum yang dapat dilihat sebagai semua perencanaan pendidikan yang akan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan, menunjukkan bahwa hal itu berkaitan dengan maksud utama pengembangan kurikulum, yaitu mengidentifikasi tujuan-tujuan yang lebih luas dan yang lebih khusus pengajaran yang harus diusahakan pencapaiannya.
Perumusan tujuan kurikulum pada umumnya didasarkan pada konsep-konsep sifat belajar, pelajar, dan masyarakat. Mc. Neil (1977) mengemukakan adanya empat perbedaan konsep yang mempengaruhi perkembangan kurikulum dewasa ini, yaitu pandangan humanis, rekonstruksi sosial, teknologi instruksional, dan disiplin akademik.
Kurikulum yang dikembangkan atas dasar pandangan hamanis misalnya, cenderung merumuskan tujuan pendidikan dengan menekankan pada kebutuhan individual demi pertumbuhan dan integritas personal. Tujuan pengembangan kurikulum yang lain adalah untuk mengurutkan tujuan-tujuan pengajaran secara sistematis logis sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya secara saling berhubungan sepanjang tahun. Aspek pengembangan kurikulum jenis ini biasanya menghasilkan spoke (cangkupan, luas) dan urutan, struktur, pengembangan urutan, atau organisasi urutan yang lain.
Tujuan dan urutan kurikulum yang di khususkan, dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaannya. Dalam titik ini, penyelesaian behan kurikulum yang layak harus sudah dilibatkan (Gall). Dengan demikian ada keterpaduan antara komponen-komponen yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut.
Penyelesaian kurikulum baik oleh tim pengembangan kurikulum maupun oleh guru secara individual, harus secara cermat dilihat dari segi relevansinya dengan kurikulum yang dikembangkan. Hal itu dapat ditempuh melalui proses pengambilan, penganalisisan, dan penilaian bahan. Jika bahan diseleksi lepas dari hubungannya yang lebih besar, ia akan menghasilkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan program pengajaran, dan hal itu berarti menghilangkan kemungkinan siswa untuk menghubungkannya dengan hal-hal yang lain.
J.      Tahap-Tahap Proses Adopsi Kurikulum
Proses adopsi bahan kurikulum memuncak pada keputusan untuk memilih atau merekomendasikan tentang penyeleksian terhadap seperangkat bahan yang khusus. Proses adopsi bahan itu dapat bervariasi tergantung pada 1) siapa yang membuat keputusan adopsi, 2) siapa yang akan menerima keputusan itu, dan 3) sifat adopsi itu sendiri.(Gall).
Sifat keputusan adopsi juga mempengaruhi proses penyeleksian yang dipergunakan, dan untuk itu paling tidak terdapat tiga keputusan adopsi.
1.         Keputusan bisa berupa pemilihan suatu produk dari sejumlah produk kurikulum. Keputusan jenis ini biasanya dibuat oleh tim penyeleksi.
2.         Keputusan bisa berupa pemilihan suatu produk kurikulum dengan mempertimbangkan kebaikan-kebaikan yang ada tanpa membandingkannya dengan produk yang lain. Keputusan jenis ini boleh dilakukan oleh seorang guru yang menjumpai suatu produk yang baru dan kemudian ingin memanfaatkannya untuk pengajaran tambahan.
3.         Keputusan ini bisa berupa pembuatan daftar bahan kurikulum yang disetujui. Semua bahan yang sesuai dengan kriteria tertentu dapat dipilih untuk mengisi daftar itu. Hal itu berarti bahwa lebih dari satu produk yang dapat dipilih oleh tim penyeleksi.
Proses penyeleksian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri dari sejumlah tahap. Gall mengemukakan ada sembilan tahap yang harus dilalui yaitu:
1.    identifikasi kebutuhan,
2.    merumuskan misi kurikulum (Spesialis media),
3.    menentukan anggaran pembiayaan,
4.    membentuk tim penyeleksi,
5.    mendapatkan susunan bahan,
6.    menganalisis bahan,
7.    menilai bahan,
8.    membuat keputusan adopsi,
9.    menyebarkan, mempergunakan, dan memonitor penggunaan.
Pembicaraan berikut tidak akan mencangkup ke-9 tahap tersebut, melainkan ada beberapa tahap yang sengaja ditinggalkan.
1.         Identifikasi Kebutuhan (Identify Your Needs)
Para ahli mengidentifikasi kebutuhan (needs) sebagai ketidak sesuaian antara apa yang menjadi kenyataan dan apa yang menjadi keinginan. Yang pertama bisa menunjuk pada kurangnya keseluruhan bahan untuk mencapai tujuan pengajaran. Sebaliknya, yang kedua mengacu kepada pengertian penyeleksian bahan yang memungkinkan siswa untuk dapat mencapai tujuan pengajaran.
Pemilihan yang dilakukan oleh tim penyeleksi biasanya dilakukan dengan a) mendaftar bahan pengajaran yang dipergunakan yang dirasa kurang memadai, dan menilai dan menyeleksi bahan baru yang diperoleh melalui penelitian. Karakteristik bahan baru yang diinginkan harus mencerminkan tujuan (goals) dan pandangan hidup, tingkat sekolah, tingkat bacaan, skope, serta sekuen kurikulum.
2.         Mendapatkan Bahan Kurikulum (Access to Curiculum Materials)
Proses pencarian bahan kurikulum sering tidak terencana dan sering bersifat kesewaktuan. Para pendidik biasanya menyadari persediaannya bahan-bahan itu melalui percakapan dengan kawan sejawat, jurnal, profesional, seminar, penetaran, dan sebagainya. Akan tetapi, para pendidik sering kurang menanggapi secara sungguh-sungguh karena meresa sulit untuk mendapatkan bahan itu atau karena kurangnya informasi bagaimana cara untuk memperolehnya.
3.         Analisis Bahan (Analyze the Meterials)
Analisis merupakan proses memisah-misahkan suatu keseluruhan material kedalam bagian-bagian atau komponen-komponen, dan kemudian menguji tiap begian itu serta bagaimana kaitannya antara satu denga yang lain.

Daftar analisis bahan itu biasanya dikelompokkan dalam empat kategori,
1.      Publikasi dan informasi
Dalam aplikasi ini kita akan mendapatkan sejumlah informasi yang perlu dianalisis, untuk melakukan analisis kita perlu mengajukkan pertanyaan-pertanyaan terhadap sub-ketegori yang dimaksud.
a.       Pengarang: siapa yang menulis bahan itu, apa lembaganya, bagaimana reputasinya, apa latar belakang profesinya , dan sebagainya.
b.      Sejarah proses pembangunan dan produk bahan: hal ini akan memberikan wawasan tentang sifat dan maksud bahan itu.
c.       Edisi: edisi pertama dari cetakan pertama: ada berapa, berapa lama jarak tiap edisi penerbitan, adakah perubahan bahan pada edisi yang kemudian.
d.) Tanggal dan tahun publikasi: publikasi tanggal dan tahun yang terbaru penting, apalagi untuk majalah atau jurnal.
d.      Penerbit: siapa penerbitnya dan siapa yang mendisrtibusikannya, dan sebagainya.
2.      Kelayakan Fisik Material
Hal ini juga dipetimbangkan dalam membuat keputusan adopsi bahan karena buku yang menguntungkan dalam segi fisik tak akan dibeli orang. Kelayakan fisik ini antara lain meliputi hal-hal:
a)      Komponen: seperangkat bahan kurikulum kadang-kadang terdiri dari seperangkat komponen. Kelengkapan dan kemudahan mendapatkan komponen-komponen tersebut aka menentukan kelayakan bahan tersebut.
b)      Daya tahan: bagaimana daya tahan bahan itu, apakah ia awet, aman terhadap terhadap kondisi tertentu .
c)      Format media: bagaimana wujut bahan itu, apakah media cetak, audio, film, apakah ia dilengkapi dengan petunjuk bagaimana mempergunakannya?
d)     Kualitas: bagaimana kualitas bahan itu, jika ia berupa media cetak (misalnya) bagaimana kualitas kertas, cara pencetakannya.
3.      Isi bahan
Isi kurikulum biasanya dianalisis dalam pengertian bahan pengajaran atau tujuan tingkah laku, dan dan oendekatan yang lain memandang isi dala pengertian cakupan dan urutan. Berikut akan dikemukakan beberapa sub-bagian isi itu.
a.    Pendekatan: filsafat, nilai-nilai, dan praduga tertentu yang mempengaruhi pengembangan bahan.
b.    Bentuk tujuan pengajaran: keluaran belajar yang dapat dicapai melalui bahan itu.
c.    Jenis-jenis tujuan pengajaran: klasifikasi tujuan pengajaran yang pada umumnya meliputi ranah kognitif, efektif, dan psikomotor yang disarankan oleh Bloom (1956).
d.   Orientasi masalah: isi bahan yang berupa sasuatu yang dipelajari. Orientasi yang terlalu luas justru menunjukkan ketidaktentuan pengetahuan.
e.    Multikulturalisme: isi yang mencerminkan perspektif dan kontribusi berbagai kelompok kultur dan etnik.
f.     Cakupan dan urutan: luas topic dan bagaimana sajian urutannya.
4.      Kelayakan bahan untuk pengajaran
Kelayakan bahan mungkin mempunyai nilai khusus pengajaran yang dimaksudkan untuk mempengaruhi siswa dalam mempelajari isi.
a.    Alat penilaian: alat untuk mengukur keluaran hasil belajar siswa yang berupa tes bentuk objektif, esai, jawaban pendek, atau tugas-tugas lain.
b.    Keterpahaman: isi bahan yang disajikan dapat dipahami oleh seluruh siswa.
c.    Hubungannya dengan bahan kurikulum yang lain: bahan yang layak sering mempunyai hubungan dengan bahan-bahan kurikulum yang lain atau dengan kurikulum secara umum.
d.   Efektivitas pengajaran: bahan pengajaran harus melengkapi dirinya dengan bukti bahwa ia merupakan bahan yang efektif.
e.    Langkah-langkah pengajaran: bentuk urutan aktivitas pengajaran harus disertai rasional yang menunjukkan bahwa hal itu dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan.
f.     Sistem pengelolaan: prosedur untuk memonitor dan mengontrol penngunaan bahan perlu disertakan dalam perangkat bahan yang kompleks karena hal itu akan membantu guru untuk mengecek kemajuan belajar siswa.
g.    Prerekuisit: sesuatu yang harus dimiliki siswa sebelum ia mempelajari bahan tingkat tertentu. Prerekuisit itu biasanya berupa kemampuan atau keterampilan tingkat tertentu yang dijadikan prasyarat sebelum siswa mempelajari bahan berikutnya.
h.    Kegiatan siswa: aktivitas apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa dalam rangka mempelajari bahan yang dimaksud.
i.      Peran guru: peran apa yang harus dilakukan guru dalam mempergunakan bahan itu pada situasi pengajaran.
5.      Penilaian Bahan Kurikulum (Appraisal of Curriculum Materials)
Penilaian terhadap suatu bahan kurikulum dapat dilakukan melalui tiga strategi, yaitu a) memeriksa bahan itu sendiri, b) membaca review kritik atau laporan bahan teknis dari studi evaluasi yang dilakukan evaluator, dan c) melakukan tes lapangan terhadap bahan (Gall).
6.      Pembuatan Keputusan Adopsi Bahan (Make an Adoption Decision)
Pembuatan keputusan untuk mengadopsi bahan merupakan langkah terakhir dalam proses penyeleksian bahan. Dilaluinya langkah-langkah sebelumnya di atas secara sistematis, dimaksudkan agar dalam pembuatan keputusan mengadopsi bahan kurikulum sebagai bagian keseluruhan proses pengembangan kurikulum dapat dipertanggung jawabkan.
Setelah bahan adopsi ditetapkan, selesailah tugas penyaksian bahan kurikulum sekolah.
K.    Penentuan Bidang Studi dan Pokok Bahasan
Penentuan isi program kurikulum (komponen isi) akan mencangkup dua masalah pokok. Pertama adalah penentuan jenis-jenis bidang studi atau mata pelajaran yang harus diajarkan, dan yang kedua adalah penentuan isi program atau pokok bahasan untuk masing-masing bidang studi tersebut.penentuan kedua jenis isi program kurikulum tersebut akan sangat ditentukan oleh tujuan masing-masing jenis dan tingkat sekolah yang bersangkutan.

1.      Penentuan Jenis Bidang Studi
Bidang-bidang studi yang dipilih dan diajarkan pada sekolah yang bertugas menyiapkan lulusannya untuk melanjutkan ke sekolah tingkat di atasnya, tidak sama dengan bidang-bidang studi yang diajarkan pada sekolah yang bertugas menyiapkan tamatannya untuk langsung terjun di masyarakat kerja. Bidang-bidang studi yang diajarkan pada sekolah golongan pertama biasanya berupa pengetahuan yang bersifat umum sebagai dasar untuk memasuki sekolah tingkat di atasnya.
2.      Menentukan Pokok Bahasan/Bahan Pengajaran
Pokok bahasan dan bahan pengajaran untuk tiap bidang studi menyangkut masalah apa yang harus diajarkan dan kapan atau di kelas beberapa bahan itu diajarkan. Dengan kata lain, dalam menentukan bahan pengajaran (isi program) itu mencangkup masalah skope (luas bahan pengajaran) dan sekuen (urutan penyampaian bahan pengajaran).
Pemilihan masalah apa atau bahan pengajaran itu ditentukan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan, yaitu yaitu tujuan kurikuler dan instruksional. Bahan-bahan pelajaran yang dipilih harus benar-benar menopang tercapainya tujuan-tujuan pendidikan tersebut. Dengan demikian bahan yang kurang atau tidak menunjang tercapainya tujuan tidak perlu diadopsi untuk diajarkan karena ia hanya akan memberati siswa.
Secara umum ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan urutan bahan pengajaran, yaitu sebagai berikut:
a.       Tingkat kematangan anak
Tingkat kematangan itu akan sejalan dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak. Pada tiap perkembangan kejiwaan itu akan diketahuikepekaan anak tentang sesuatu.
b.      Tingkat pengalaman anak
Pengalaman yang telah dimiliki anak inilah yang dijadikan dasar untuk memberikan pengalaman-pengalaman edukatif lain yang lebih tinggi tingkatannya. Pemberian bahan pelajaran yang tidak didasarkan pada tingkat pengalaman anak juga akan berakibat kurang berhasilnya program pengajaran yang dilakukan.
c.       Taraf kesulitan
Bahan pengajaran harus disusun berdasarkan taraf kesulitan siswa. Bahan pengajaran harus disusun dari yang mudah ke yang lebih sulit, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang konkret ke yang abstrak, agar pemberian bahan tersebut mudah diikuti siswa.