Selasa, 06 Januari 2015

Teman Sebaya



Menurut WFConnell(1972) kelompok teman sebaya (peer frienship group) adalah kelompok anak-anak atau pemuda yang berumur sama atau berasosiasi sama dan mempunyai kepentingan umum tertutup, seperti persoalan-persoalan anak-anak umur sekolah sampai dengan masa remaja (adolesence).

Kelompok teman sebaya dalam kelompok utama. Kelompok utama merupakan kelompok sosial di mana masing-masing anggota terjalin hubungan yang erat dan bersifat pribadi.Sebagai hasil hubungan yang bersifat pribadi adalah peleburan dan individu dalam kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompoknya. Kelompok-kelompok sebaya di kampung-kampung mereka bersatu dalam Satu permainan, berdiskusi tentang sesuatu masalah. Dalam kelompok ini mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka ketemukan di rumah. Saling hubungan yang bersifat pribadi itu menyebabkan seseorang dapat mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya baik sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang menyedihkan. Oleh karena itu anak-anak ini sering meninggalkan rumah dalam waktu yang berjam-jam lamanya. Dalam kelompok ini terjadi kerja sama, tolong-menolong, akan tetapi sering juga terjadi persaingan, dan pertentangan.

WF Connell menyatakan bahwa kelompok utama itu mempunyai ciri-ciri (1) jumlah anggotanya kecil, (2) ada kepentingan yang bersifat umum dan dibagi secara langsung, (3) terjadi kerja sama dalam suatu kepentingan yang diharapkan, (4) pengertian pribadi dan saling hubungan yang tertinggi antar anggota dalam kelompok biarpun dapat terjadi pertentangan (WF. Connell, 1972, p.76). Kelompok teman sebaya baik yang terjadi di masyarakat maupun di sekolah terdiri kelompok-kelompok sosial yang beranggotakan beberapa orang. Dalam kelompok ini sering terjadi tukar-menukar pengalaman, berbagai pengalaman, kerja sama, tolong-menolong, tenggang masa dalam kelompok sebaya adalah tinggi. Dalam kelompok sosial terjadi empati, simpati, dan antipati. Antipati yang terjadi dalam kelompok disebabkan oleh adanya ketidak cocokan antara individu sehingga tenjadi pertentangan dan percecokan antar anggota.

Untuk mengetahui kelompok sebaya sebagai kelompok utama, maka perlu beberapa hal. Kingley Davis (1960) menyatakan bahwa untuk memahami kelompok utama perlu diperhatikan (1) kondisi pisik dari kelompok utama, (2) sifat-sifat hubungan primair dan (3) kelompok-kelompok yang konknit dan hubungan primair (Soenjono Soekanto, 1981, p.102).

Suatu kelompok sosial untuk dapat menjadi kelompok utama tidak cukup dengan hubungan yang saling kenal-mengenal. Ada tiga syarat yang penting agar kelompok sosial menjadi kelompok utama yaitu (1) secara fisik berdekatan satu sama lain, (2) anggota kelompok kecil, (3) adanya hubungan yang tetap antar anggota anggota kelompok. Agar kelompok sosial menjadi kelompok utama maka secara fisik harus berdekatan, terjadi hubungan tatap muka, sehingga terjalin hubungan yang akrab. Dalam hubungan yang akrab ini akan saling berbicara, bertukar pikiran, cita-cita, maupun perasaan. Mereka berjalan bersama, belajar bersama, bermain-main bersama, makan bersama dan lain sebagainya. Keadaan akrab yang demikian hanya bisa berjalan dengan baik jika jumlah anggotanya relatif kecil.

Keakraban ini dapat terganggu jika dalam masyarakat terdapat norma yang ketat umpamanya kasta atau kelompok atas (elite), atau kelompok bangsawan, kelompok priyayi. Kelompok-kelompok ini akan sulit mendorong timbulnya kelompok utama dalam masyarakat yang bersifat majemuk. Dalam kelompok yang kecil akan mudah tejalin hubungan yang bersifat pribadi. Jika terjadi percecokan yang melibatkan orang tua maka orang tua masing-masing kelompok belum akrab justru anaknya sudah bermain bersama kembali. Hal ini menunjukkan kelompok ini mempunyai sifat tetap.

Salah satu sifat.utama dari hubungan yang bersifat primair adalah adanya kesamaan tujuan dan individu yang tergabung dalam kelompok. Hubungan-hubungan ini bersifat pribadi, spontan, sentimental dan inklusif. Persamaan tujuan ini mempunyai dua arti yaitu (1) individu yang bersangkutan mempunyai keinginan dan sikap yang sama pula, (2) satu pihak ada yang bersedia untuk berkorban demi kepentingan pihak lain. Sebagai contob suatu kelompok ingin bermain sepak bola, maka mereka yang membeli bola. Dalam kejadian itu ada anak yang mengorbankan uangnya untuk membeli bola dan digunakan bermain bersama-sama. Dalam saling hubungan tersebut adanya nilai sosial, sebab dalam saling hubungan ini bersifat suka rela, semua pihak benar benar merasakan suatu kebebasan dalam pelaksanaan. Sifat hubungan bersifat pribadi. Hal ini berarti bahwa saling hubungan dalam kelompok itu teijalin bukan karena diberi sesuatu yang bersifat material, hubungan antar pribadi tidak dapat pula digantikan dengan orang lain. Suatu kelompok belajar yang terdiri dan lima orang, kelompok ini tidak dimasuki oleh anak lain biarpun dapat menurunkan biaya yang ditanggung kelompok ini. Oleh karena itu kelompok utama juga bersifat inklusif.

Kelompok sosial yang termasuk dalam kelompok utama adalah banyak, tetapi kelompok kelempok itu sulit untuk memenuhi persyaratan itu. Menurut kenya sehari-hani dapat terjadi perselisihan dan perpecahan di dalam kelompok ini, dapat terjadi saling membenci antara anggota kelompok.

TEMAN SEBAYA DAN PENDIDIKAN

Seperti telah dijelaskan bahwa menurut bentuknya pendidikan dapat menjadi pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Dalam ketiga bentuk pendidikan itu terdapat dua dunia yang saling berhadapan yaitu dunia anak didik dan dunia pendidik. Dalam keluarga berhadapan dunia orang tua dan dunia anak, dalam pendidikan formal dan pendidikan nonformal ada dua dunia pendidik (guru) dan dunia siswa. Dunia anak dan dunia siswa ini akan berkaitan dengan kelompok sebaya. Oleh karena sekolah dan keluarga akan berhadapan dengan kelompok sebaya
sumber : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar