Jumat, 31 Juli 2015

KOMPETENSI ANAK - KOMPETENSI BERBAHASA



Nama : Nur Alifa Adiratna
NIM : 2227132345
Kelas : 2/D
Mata kuliah : Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Peserta Didik
Pendidikan Guru Sekolah Dasar


KOMPETENSI ANAK
KOMPETENSI BERBAHASA


Kompetensi berasal dari kata kompeten, yang berarti cakap, mampu dan terampil. Sedangkan kompetensinya sendiri adalah tingkat kemampuan seseorang untuk melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab yang dimiliki dalam melaksanakan tugasnya secara efektif efisien. Jika seperti itu definisi kompetensi, maka apakah yang di maksud dengan kompetensi anak? Kompetensi anak berarti kemampuan seorang anak untuk melaksanakan sesuatu secara benar, tepat dan pas dengan standar yang ditentukan.
Kompetensi berbahasa berarti kemampuan seseorang atau seorang anak dalam berbahasa. Bahasa sendiri merupakan alat untuk berkomunikasi, dimana bahasa sendiri diartikan sebagai cara untuk berkomunikasi yang dinyatakan dalam symbol, lambang, lisan, tulisan, isyarat, ekspresi (mimik muka),lukisan, dan sebagainya.
Bahasa yang di dapat oleh anak tidak hanya semata-mata di bangku sekolahan saja, sebelum sekolah pun mereka sudah mengenal bahasa. Bahasa yang mereka dapat ya pasti berasal dari bahasa yang sering orang tua, keluarga atau lingkungannya ucapkan. Tapi perlu di ingat bahasa yang terjadang sering di pakai di dalam keluarga pasti berbeda dengan diluar keluarga, lingkungan teman, dan sekolah. Bisa saja di dalam keluarga kita aktif saling berkomunikasi dengan bahasa daerah tetapi jika di sekolah atau lingkungan luar, kita di tuntut untuk berbahasa sama yaitu bahasa kesatuan bahasa Indonesia. Kecakapan anak dalam berbahasa juga merupakan bukti jika kondisi si anak aktif bersosialisi dengan orang tau, rajin membaca, dan sering juga di ajak berkomunikasi dengan orangtua atau keluarga. Ditegaskan disini jika kecakapan anak dalam hal berbahasa atau berkomunikasi dengan orang lain dimulai dari pola asuh orang tua. Karena orang tua lah faktor utama dalam perkembangan anak.
Zaman modern sekarang ini, banyak anak-anak yang berbicara tidak sesuai dengan umurnya. Berbicara layak orang dewasa tetapi tidak ada kepantasan sama sekali dengan umurnya. Anak SD yang notabennya berbicara sesuai dengan umurnya kini malah menadi dewasa sebelum waktunya. Entah melihat dan mendegar dari mana si anak tersebut. Anak mempunyai bahasanya sendiri, bahasa yang memang hanya dia yang dapat mengerti, dan orang tua juga guru di paksa untuk harus bisa memahami bahasa anak tersebut. Oleh sebab itu seorang guru khususnya guru SD diharuskan memakai bahasa anak dalam penyampaian materi yang diajarkan.
            Membahas tentang bahasa pada era modern seperti ini, nampakanya terlihat jelas anak-anak sekarang jarang sekali menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mereka kini malah sering menggunakan bahasa asing dalam kesehariannya, misalkan bahasa Inggris, Japan, Korea, Cina dan sebagainya. Memang itu merupakan suatu kelebihan bagi sang anak dan suatu kebanggaan bagi orang tuanya, tetapi hal tersebut membuat si anak lupaka akan bahasa aslinya juga bahasa ibunya. Bukankah mengajarkan anak mengenai bahasa asli dan bahasa ibu merupakan sesuatu hal yang di haruskan agar bisa melestarikan bahasa tersebut. Keadaan berbalik sekarang, dahulu jika ada anak ataupun seseorang yang berbicara menggunakan bahasa yang baik dan benar itu disegani bahkan terlihat sangat intelek dikalangannya, tetapi sekarang jika berbicara atau berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar atau dalam kata lain bahasa yang benar-benar sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia terkadang justru menjadi bahan olok-olokan kawan sekitarnya atau dicap sebagai orang yang so intelek, so pintar, so konglomerat, pejabat, presiden dan sebagainya. Memang salah jika kita atau anak menggunakan bahasa yang baik dan benar? Tidak kan?!
            Cara anak berbicara di kota dan di desa cenderung jauh amat berbeda. Terkadang anak yang tinggal di desa tutur kata bahasa yang dikeluarkan lebih halus, sopan, dan menggunakan bahasa ibu (daerah),. Sedangkan anak yang tinggal di kota lebih cenderung menggunakan bahasa yang modern (campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing), cara berbicaranya pun terkadang lebih mengarah ke individualis, merasa berwibawa, dan sedikit agak berbobot dalam penyampaian kata demi kata. Tapi ingat tidak semua anak seperti itu baik di desa maupun kota, tergantung bagaimana cara didikan orang tuanya.
            Perlu di ingat, tidak semua anak terlahir dengan sempurna, dan kita tidak bisa memungkiri itu, merekalah anak-anak berkebutuhan khusus. Jadi kompetensi anak dalam berbahasa tidak hanya melalui lisan atau bicara saja, bahasa anak pun terkadang tersirat dalam tulisan, ekspresi (mimik muka), dan isyarat atau symbol.
            Sebagai contoh terkadang ada anak yang menangis histeris jika apa yang ia inginkan tidak terpenuhi, dan itu merupakan salah satu bahasa anak mengungkapkan kekecewaannya. Atau bisa juga si anak menangis karena menginginkan sesuatu tetapi ia tidak mampu mengungkapkannya dengan lisan, dan itu merupak bentuk bahasa anak secara emosional. Adapula bahasa anak yang diungkapkan melalui isyarat, atau dikenal juga sebagai bahasa isyarat. Bahasa isyarat inilah yang biasa digunakan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus  seperti tuna wicara ataupun tuna rungu. Untuk memahami bahasa isyarat ternyata dibutuhkan kepekaan yang sangat tinggi, tapi ada juga suatu ilmu yang khusus mempelajari bahasa isyarat ini. Dan calon guru pun harus bisa dan paham mengenai bahasa isyarat ini.
            Anak memperoleh bahasa dari lingkungan sekitar yang kondusif. Misalnya ketika si anak belum bisa untuk berbicara, orangtua selalu saja mengajaknya bicara sampai-sampai apa yang selalu orang tua mereka ucapkan terekam dalam memorinya dan ketika sudah mulai bisa berbicara si anak akan menggunakan bahasa yang orangtuanya sering ucapkan padanya.  Seorang anak belajar bahasa menggunakan kekreatifannya, mereka terkadang menciptakan kata-kata baru, dan jika dirasa kata-kata yang mereka ciptakan itu gagal di aplikasikan dalam komunikasi maka secara otomatis mereka tidak akan menggunakan kata-kata itu lagi.
            Guru dan orangtua akan berhasil mengajarkan bahasa kepada anak, jika mereka menggunakan bahasa itu secara spontan atau real tanpa ada niat untuk mengajarinya bahasa , dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi dengan kata-kata.
            Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif dalam pergaulan sosial. Namun terkadang bahasa juga menjadi boomerang bagi segelintir orang. Kesalah pahaman tentang sebuah makna dari apa yang diucapkan kadang membuat anak berkelahi atau bermusuhan. Jangankan anak-anak, terkadang orang dewasapun seperti itu adanya. Pembelajaran bahasa di sekolah  yang efektif memperlukan bahasa yang optimal juga, bahasa yang komunikatif dan adanya interaksi yang aktif dan produktif di pembelajaran tersebut.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar