Jumat, 31 Juli 2015

Motivasi Dalam Berorganisasi


“Setiap orang melakukan sesuatu tentu ada satu atau beberapa hal yang ingin didapatkan. Meski ada juga yang melakukan sesuatu tanpa keinginan, ini hanya sebagian kecil. Ada pengorbanan yang dikeluarkan, ada pula hasil yang ingin dicapai, begitu juga sebaliknya.”
Di Organisasi juga berlaku demikian. Mungkin seseorang yang bergabung dalam sebuah organisasi akan mengorbankan waktunya, tenaganya, pikirannya, materinya yang dimilikinya, bahkan ada yang mengorbankan nyawanya untuk sebuah organisasi. Mengapa demikian? Karena ada yang dituju dan hasil yang diharapkan.
Terlibat aktif dalam organisasi akan mengembangkan kemampuan dan kapasitas pribadi seseorang. Telah terbukti baik secara ilmiah maupun secara realita dikehidupan sehari-hari, orang-orang yang matang dalam organisasi lebih unggul dibandingkan mereka yang diam saja.
Nah, apa saja yang akan didapatkan seseorang dalam Organisasi? Tentu apa yang didapatkan masing-masing orang tidak sama. Tergantung dari keaktifannya di organisasi, tergantung dari tujuan awalnya, tergantung dari lingkungan bermainnya, dan tergantung faktor-faktor lain.
Secara umum kita akan menginventarisasi apa saja yang didapatkan kebanyakan orang di Organisasi..!! Simak berikut ini :
1. Kemampuan menyelesaikan masalah
Hal ini salah satu nilai tambah yang didapatkan seseorang dengan aktif di organisasi. Perbedaan yang jelas akan terlihat ketika dua orang dibandingkan. Satu siswa  terbiasa menyelesaikan masalah-masalah di organisasi, satu lagi siswa yang terbiasa diam dikamar, kutu buku, tak pernah bergaul.
Siswa yang terbiasa di organisasi cenderung tidak shock ketika mendapatkan masalah, menanggapi dengan lebih tenang karena dia telah terbiasa. Sementara siswa yang tak terbiasa merasa tidak percaya diri, dan akhirnya kebingungan.
Siswa yang suka membaca tanpa pernah terlibat dalam organisasi umumnya jarang mempraktekkan apa yang dibacanya. Merasa kurang percaya diri dan tidak terbiasa. Sementara mereka yang terbiasa dalam organisasi telah tertempa oleh berbagai macam latihan menyelesaikan masalah. Mulai dari masalah kecil, sampai masalah yang lebih besar
2. Kemampuan menentukan pilihan terbaik dan menentukan prioritas
Pilihan untuk berorganisasi secara maksimal sendiri adalah pilihan yang berat. Mereka yang aktif berkecimpung dalam dunia organisasi biasanya berhadapapan dengan banyak masalah yang harus segera diselesaikan.
Terkadang masalah muncul seperti hujan deras, sangat banyak dan butuh penyelesaian secepatnya. Disinilah satu lagi kita temukan keunggulan orang yang terbiasa berorganisasi. Diantara sekian banyak masalah itu, yang mana yang harus didahulukan? Yang mana harus segera diselesaikan, yang mana bisa ditunda penyelesaiannya?
Latihan-latihan dalam dunia organisasi untuk menyelesaikan masalah umumnya sangat sering. Masalah bisa dicari, bahkan biasanya datang sendiri. Nah, semakin sering menyelesaikan masalah ini, maka intuisi untuk menentukan prioritas akan semakin terasah.
Mereka yang aktif di organisasi dilatih untuk pandai memilah masalah. Mana masalah sangat penting, mana masalah yang sudah dikejar deadline, mana masalah tidak terlalu penting, mana masalah yang dapat diselesaikan suatu saat nanti. Semakin lama dan semakin banyak masalah yang berhasil disortir, maka kemampuan ini akan semakin tertempa.
3. Teman, kolega, sahabat, partner
Banyak orang yang menjadikan poin nomor tiga ini sebagai tujuannya berorganisasi. Bahkan tidak dapat dipungkiri, poin tiga ini adalah salah satu buah manisnya dunia organisasi. Salah satu yang paling banyak menarik orang untuk terlibat aktif di organisasi.
Organisasi adalah wadah orang berinteraksi beradu pemikiran, menyampaikan ide-ide, berkomunikasi satu sama lain agar maksud yang ingin disampaikan dapat diterima oleh anggota organisasi yang lain.
Intensitas diskusi, sharing, komunikasi inilah yang nantinya akan memunculkan ikatan pertemanan, ikatan emosional, persahabatan dll.
Dalam organisasi juga biasanya banyak tugas yang tak bisa diselesaikan sendiri. Disini seseorang harus bisa bekerja dalam sebuah tim. Artinya harus bisa berinteraksi dengan yang lain agar tujuan dari organisasi tercapai
Banyak pertemanan dan persahabatan akrab berawal dari organisasi. Banyak rekanan yang cocok, partner yang pas di kemudian hari dimulai dari kedekatannya di satu organisasi tertentu.
4. Koneksi (konektivitas), jejaring sosial (Sosial Network), Jejaring kerja (Job Network)
Poin nomor empat ini juga salah satu yang menarik banyak orang untuk berorganisasi. Aktif berorganisasi, artinya punya kesempatan mendapat banyak teman, punya kesempatan mengenal banyak orang, punya kesempatan berinteraksi dengan berbagai lembaga (misalnya sponsor, rekanan, dsb)
Dari interaksi-interaksi itulah orang yang berorganisasi dapat mengumpulkan jaringan dan koneksinya. Pertemanan yang baik saja dapat menjadi sebuah koneksi yang bagus di kemudian hari.
Orang yang punya kemampuan komunikasi bagus dalam organisasi biasanya punya banyak kenalan. Punya teman dimana-mana. Punya kenalan di perusahaan A, di perusahaan B, dll. Kemudian hari, kenalan-kenalan ini dapat dijadikan sebuah jaringan yang berguna untuk karier dll.
5. Keahlian Spesifik
Poin nomor lima ini sering dijadikan bahan tulisan, dasar yang menjadi intisari dari tujuan orang berorganisasi. Berbicara keahlian, sangat banyak cakupannya. Banyak kemampuan bisa disebut keahlian. Dan untungnya, keahlian spesifik dalam organisasi  ini tidak didapatkan di materi kuliah.
Keahlian spesifik yang dimaksud menjurus pada suatu keahlian khusus. Dan pendalamannya harus dengan latihan yang terus menerus. Di Organisasi pecinta alam misalnya, seseorang akan diajari, dilatih untuk ahli dalam ilmu Navigasi, Mounteneering, Climbing, dan sebagainya, tergantung bidang yang diambil dalam Organisasi pecinta Alam tersebut
Di sub divisi HUMAS (Hubungan masyarakat) misalnya, seseorang akan lebih fokus pada masalah yang berhubungan langsung dengan masyarakatan, public relation, dll
Seorang yang aktif di organisasi-organisasi tertentu bisa saja menjadi ahli di bidangnya. Banyak bidang-bidang dalam sebuah organisasi khusus membutuhkan orang yang benar-benar ahli. Nah, untuk mendapatkan anggota yang ahli itu, biasanya suatu organisasi mempunyai cara sendiri-sendiri.
6. Uang/Materi
Oops. Jangan berpikir negatif dulu. Hal ini kedengarannya tidak enak ditelinga kawan-kawan yang punya idealis dan integritas dalam berorganisasi. Tapi, realita menunjukkan hal ini memang ada
Jika kita berbicara di organisasi non komersial, memang sebaiknya uang tidak menjadi tujuan dalam organisasi. Menjadikan uang sebagai tujuan masuk organisasi “dikatakan” oleh banyak orang sebagai tujuan yang tidak baik. Kurang etis.
Namun tak mustahil, ada juga percikan materi yang bisa kamu dapatkan jika profesional mengelola organisasi semacam ini. Misalnya organisasi siswa, organisasi kemahasiswaan, organisasi massa, lembaga swadaya masyarakat, dll.
Buruknya, banyak organisasi yang berlabel kemanusiaan, nirlaba, dll malah secara terselubung mengeruk keuntungan dari kegiatan organisasinya. Hal ini terjadi karena penggerak organisasinya tentu menjadikan uang/materi sebagai tujuan.
Nah, meski dalam organisasi nirlaba uang bukanlah tujuan, tapi banyak juga anggotanya yang menggunakan proyek-proyek organisasi untuk mencari uang. Istilah yang biasa digunakan yaitu “Ngobyek“.
Cara yang digunakan kebanyakan adalah memanfaatkan selisih harga (mark up). Misalnya ada proyek pengadaan seragam. Si A dapat tugas untuk memesan seragam tersebut. Di Konveksi X si A dapat harga 10.000 per pcs, di konveksi Y si A dapat 8.000 per pcs, jumlah pesanan ada 1000 pcs. Lumayan kan, dengan memesan di konveksi Y, si A dapat mengantongi paling kecil 400.000 rupiah
Ada yang bilang, mencari uang dalam organisasi nirlaba sah-sah saja. Ada yang bilang hal tersebut tidak etis. Semua tergantung dari yang menjalaninya. Baik dan buruk hanya penilaian seseorang. Hati nurani lah yang sebenarnya dapat mengontrol perbuatan kita.
7. Jabatan-posisi-kekuasaan
Dalam organisasi ada jabatan-jabatan strategis dan bergengsi. Banyak sekali orang-orang ambisius yang menjadikan jabatan dan kekuasaan ini sebagai tujuannya berorganisasi. Ada yang mengakuinya secara terang-terangan, ada yang menyembunyikannya dalam lubuk hati.
Dengan sebuah jabatan di organisasi, terutama jabatan yang tinggi. Tentu seseorang akan punya kekuasaan-kewenangan lebih besar dari lainnya yang hanya anggota biasa
Biasanya posisi-posisi ketua, pemimpin, direktur, dan posisi teratas lainnya banyak menjadi incaran orang. Namun ada juga yang secara sengaja tidak mengincar posisi tertinggi. Namun malah menyasar posisi tertentu sesuai fungsinya. Barangkali orang seperti ini sudah terobsesi, atau memang murni ingin belajar di posisi tersebut
8. Popularitas
Salah satu yang paling menarik minat orang untuk berorganisasi adalah ingin dikenal orang lain. Dalam bahasa kerennya disebut popuparitas, atau menjadi populer.
Banyak dikenal orang, dimana saja memang menyenangkan. Terasa seperti selebriti barangkali. Ini sah-sah saja untuk dijadikan motivasi dan penyemangat dalam berorganisasi. Lagipula, sebenarnya orang yang aktif di organisasi akan menjadi populis dengan sendirinya tanpa perlu digembar-gemborkan
Tentu saja, bukan diri seseorang saja yang dapat membuatnya populer. Bagaimana kinerjanya selama di organisasi? Apa saja yang dia lakukan untuk organisasi? ini menjadi penilaian tersendiri bagi banyak orang
Bersambung dengan jabatan dan kekuasaan, popularitas adalah salah satu buntut dari jabatan. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam dunia organisasi, memungkinkan dia untuk semakin dikenal lebih banyak orang, dibanding mereka yang berada dalam posisi rendah
Namun tak semua organisasi menganut sistem semacam ini. Ada juga organisasi yang ketuanya bahkan tidak dikenal banyak orang. Bahkan terkesan disembunyikan.
9. Latihan-belajar untuk mampu berbicara-menyampaikan pendapat, ide, dan gagasan pada orang lain
Banyak orang yang punya ide cemerlang, tapi ragu untuk menyampaikan kepada orang lain. Biasanya terbentur oleh rasa percaya diri yang belum cukup, atau kemampuan berbicara-menyampaikan pendapat yang dirasa masih kurang
Di organisasi, kamu punya kesempatan yang luas untuk belajar bicara. Mulai dari forum-forum kecil, sampai forum yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan orang.
Mulai dengan tata bahasa yang kacau balau, sampai akhirnya kamu bisa mengutarakan pendapat, ide, dan gagasan kamu dalam bahasa yang elegan. Di organisasi lah tempatnya kamu akan ditempa.
Pada saat pertama kali berbicara didepan khalayak ramai, barangkali kamu merasa tidak percaya diri, kaki gemetar, bahkan sampai berkeringat dingin dengan jantung dag dig dug.
Kamu sanksi pada diri sendiri. Dalam hati timbul pertanyaan, apakah yang saya sampaikan dimengerti orang lain? apakah bahasa yang saya gunakan sudah tepat sehingga dapat dimengerti orang lain.
Di organisasi, kamu akan dilatih, belajar terus menerus, sampai akhirnya percaya dirimu menjadi tinggi, sehingga semua keraguan itu sirna dari pikiranmu. Dan akhirnya kamu pun mampu untuk tampil kedepan, mengutarakan gagasan brilianmu.
10. Latihan dan belajar sendiri cara berdiplomasi, bernegosiasi, melobi, atau mempengaruhi orang lain secara persuasif
Ini adalah soft skill yang langka. Tidak semua orang bisa melakukannya. Pendekatan persuasif cenderung lebih efektif dalam menyelesaikan masalah. Walaupun prosesnya butuh kesabaran dan perhitungan yang cermat
Tidak melulu masalah dapat diselesaikan dengan fisik, adu otot, senjata dan sebagainya. Kadang perlu ada pendekatan-pendekatan yang lebih halus. Ingat, perjuangan bersenjata saja takkan membuat Indonesia merdeka.
Untuk masalah-masalah yang serius dan sensitif, sedikit saja melakukan kesalahan, akan fatal akibatnya kedepan. Bayangkan, masalah yang seharusnya dapat diselesaikan dengan cara negosiasi tapi malah di selesaikan secara fisik, mubazir bukan?
Tentu saja kerugian materi dan tenaga dapat diminimalisir dengan cara pendekatan persuasif.
Di Organisasi, teknik bernegosiasi, diplomasi dan lobi dapat dipelajari secara otodidak. Kamu dapat mempraktekkan langsung suatu konsep/pendekatan yang sudah kamu rancang.
Seiring berjalannya waktu dan seringnya kamu menerapkan cara negosiasi yang baik, maka kamu akan semakin matang. Terkadang jika terjadi suatu masalah yang melibatkan lebih dari satu pihak, kesuksesan suatu kegiatan, atau suatu rencana sangat bergantung pada suksesnya negosiasi.
Banyak negosiator yang menjadi penentu kesuksesan suatu rencana. Namun biasanya mereka bekerja di belakang layar. Tidak muncul di permukaan
11. Kemampuan admisistrasi, struktural, prosedural
Poin ini adalah kemampuan dasar yang akan didapatkan seandainya seseorang mau terlibat aktif dalam organisasi. Kemampuan administrasi seperti surat menyurat misalnya, memang terkesan enteng. Namun pada momen tertentu, masalah enteng ini dapat saja menjadi penghambat jika diabaikan
Di Organisasi, kamu akan melihat dan merasakan langsung bagaimana berhadapan dengan struktur-struktur dalam organisasi, bagaimana berhadapan dengan prosedur-prosedur baku dalam organisasi, bagaimana pengurusan dan pengelolaan administrasi dalam suatu organisasi.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk organisasi yang kamu ikuti, tetapi juga organisasi yang menjadi partner/rekanan dari organisasimu. Bukankah kamu dapat mengintip langsung dan belajar banyak darinya?
12. Belajar menjadi pemimpin-memimpin sebuah tim
Ini erat kaitannya dengan jabatan. Jika jabatan adalah posisi struktural, maka pemimpin adalah posisi operasional. Ketua organisasi sudah jelas akan merasakan hal ini. Tapi tak tertutup kemungkinan untuk belajar memimpin bagi pejabat-pejabat dibawahnya.
Menjadi ketua dalam sebuah organisasi belum tentu menjadi pemimpinnya. Ada juga organisasi yang menempatkan seseorang dalam posisi ketua, namun itu hanya jabatan formal. Ada seseorang yang lain lagi yang mengontrol gerak organisasi tersebut, inilah yang dimaksud dengan pemimpin
Dalam organisasi, biasanya masih menganut “primus interpares“, siapa yang memiliki kecakapan paling bagus, dialah yang dianggap pemimpin oleh organisasi tersebut.
Selain itu, dalam sebuah organisasi seringkali dibentuk tim-tim kecil untuk menyelesaikan masalah secara fokus. Tim ini akan dipimpin oleh satu orang atau lebih. Nah, disinilah pintu untuk belajar memimpin terbuka lebar
Meski setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, namun belum tentu dia bisa menjadi pemimpin bagi orang lain disekitarnya. Di Organisasilah salah satu tempat untuk mengasah jiwa kepemimpinan ini menjadi semakin matang.
13. Kemampuan untuk memahami karakter orang lain
Bertemu, berkomunikasi, dan berdiskusi dengan banyak orang dalam sebuah organisasi, maupun lintas organisasi, perlahan kamu akan mempelajari berbagai karakter manusia.
Di organisasi, dimana anggotanya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, punya tujuan pribadi yang tidak sama juga misalnya, pemahaman terhadap karakter seseorang menjadi sangat penting.
Memahami karakter sangat berkaitan dengan masalah kepemimpinan. Seorang pemimpin dituntut mampu memahami karakter yang dipimpinnya. Dengan mengetahui karakter inilah kemudian pemimpin dapat mengetahui kecenderungan sikap, atau reaksi anggotanya.
Dengan mengetahui karakter, kemudian pemimpin dapat mengambil langkah preventif (pencegahan) seandainya terjadi suatu masalah dalam tubuh organisasi, maupun dalam hubungannya dengan dunia luar
14. Kemampuan untuk menghargai pendapat atau gagasan orang lain
Ada banyak ide yang muncul dari beragam kepala manusia dalam sebuah organisasi. Menyatukan gagasan itu menjadi sebuah keputusan bersama bukanlah hal yang mudah, meski itu adalah sesuatu yang sangat mungkin
Dalam diskusi misalnya, ada banyak pendapat yang dikeluarkan oleh masing-masing anggota. Tapi hanya satu atau dua yang akan dijadikan keputusan organisasi. Disini kamu akan belajar bagaimana menerima pendapat orang lain yang lebih baik, ataupun yang disepakati oleh sebagian besar anggota lain
Pendapat yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain. Di Organisasi lah kita akan dilatih menghadapi banyak ide. Menerima atau menolak adalah urusan pribadi kita. Tetapi, seburuk apapun sebuah gagasan, kita harus menghargainya.
Jika pendapat itu baik, maka kita terima. Jika pendapat itu buruk, maka kita tolak dengan dasar-dasar yang benar (logis, rasional, empiris, faktual) dan lebih dapat diterima orang lain.
Banyaknya diskusi dalam sebuah organisasi akan melatih masing-masing anggotanya untuk menghargai pendapat/gagasan anggota lain. Sebab, meski ada seribu gagasan, tetap yang terbaiklah yang harus dijadikan keputusan, dan kita harus dapat menerima jika seandainya pendapat kita tidak disepakati oleh orang lain
15. Kemampuan untuk berkorban-mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi
Berikut ini bukan kisah sebenarnya, tapi saya rekayasa untuk menggambarkan poin diatas, mari kita simak :
Misalkan :
“Ir. Soekarno dan Dr Moh Hatta hanya memikirkan kepentingan pribadi (anggaplah popularitas, atau “cari nama”) pada saat menandatangai teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga (dengan kesepakatan mereka berdua) di teks itu mereka tulis “Atas nama Soekarno-Hatta”  bukan “Atas nama bangsa Indonesia”
Kira-kira apa yang akan terjadi? Bisa saja teks proklamasi itu tidak dianggap mewakili “Bangsa Indonesia” kan? Bisa saja Jepang, atau Belanda mengklaim bahwa proklamasi itu hanyalah pernyataan sektarian, bukan atas nama Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Mungkin saja”
Atau misalkan lagi :
Para pejuang, para pahlawan yang telah gugur melawan penjajah dulu memilih berkompromi dengan Penjajah (Belanda, Jepang, Inggris, dsb). Mereka lebih memilih menyelamatkan harta benda, keluarga, dan jiwa raga mereka sendiri. Toh, itu juga bukan tugas mereka sendiri, jadi mengapa mereka yang harus jadi korban. Mengapa harus mereka yang harus gugur berdarah-darah
Misal saja mereka berpikir seperti itu? Barangkali Indonesia belum dinyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945. Barangkali masih menunggu berapa generasi lagi hal itu bisa terjadi“.
Mungkin dua contoh diatas terlalu jauh, mari kita lihat yang dekat-dekat saja. tentang organisasi dan ada didekat kita..!
Sebentar lagi kita akan menyelenggarakan OSPEK. Kebetulan hampir disetiap kampus waktunya jatuh sekitar seminggu setelah lebaran idul fitri. Idul fitri adalah saat-saat paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Melepas rindu, setelah lama tak bertemu
Andaikan saja : Panitia OSPEK (mungkin hampir seluruhnya) lebih mengutamakan urusan pribadinya, yaitu berkumpul bersama keluarga daripada urusan bersama, yaitu menunaikan tugas sebagai panitia OSPEK pada H+7 Lebaran. Kira-kira apa yang akan terjadi?”
Ya, tentu saja semua perencanaan akan kacau balau. Panitia tidak ada, siapa yang akan melaksanakan kegiatan? Hancurlah tujuan bersama yang telah direncanakan jauh-jauh hari
Nah begitulah. Dalam organisasi, masing-masing anggotanya dilatih untuk berkorban. Dilatih untuk mendahulukan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Semakin banyak latihannya, maka orang yang tergabung dalam organisasi akan semakin peka/sensitif pada urusan bersama.
Dalam organisasi, hal ini dirasakan, dipelajari secara mandiri, mulai dari tingkat pengorbanan yang kecil, hingga tingkat pengorbanan yang tak terkira. (sumber: enviroleeb.wordpress.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar